Bab 9


Netpreneurship

A.   Latar Belakang
1.      Pemahaman Umum
a.      Entrepreneurship sudah banyak disosialisasikan dalam bentuk seminar, diklat, mentoring, bahkan sudah menjadi mata pelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau mata kuliah di Perguruan Tinggi (PT). Entrepreneurship masih dipahami secara salah kaprah (bahkan oleh para guru dan para dosen) bahwa seorang wirausaha adalah seorang entrepreneur. Seorang entrepreneur adalah seorang wirausaha namun seorang wirausaha belum tentu seorang entrepreneur karena seorang entrepreneur mampu melihat sampah sebagai peluang dan menjadikannya emas. Untuk memiliki kemampuan tersebut seseorang harus memahami bagaimana esensi entreprenerial (keseharian entrepreneurship) berproses dalam jiwanya, dalam pola pikirnya, dalam penerapan kesehariannya. Entrepreneurship adalah masalah pola pikir yang mengakar dalam jiwa yang tidak dapat diperoleh secara instan. Dibutuhkan integritas yang tinggi untuk menjalani proses menuju esensi entreprenerial. Entreprenerial adalah pemahaman holistik tentang sebuah usaha yang merangkum semua aspek mikro sebuah usaha kedalam pola pikir makro. Seorang entrepreneur harus memahami antara lain :

ü  Pemahaman proses penciptaan produk/jasa dan teknologi yang dibutuhkan.
ü  Pemahaman kekuatan produk/jasa.
ü  Pemahaman konsep kompetisi dan kompetitor
ü  Pemahaman pemasaran (dan promosi), penerapan strategi.
ü  Pemahaman pemberdayaan mitra usaha.
ü  Pemahaman presentasi atau publikasi usaha.
ü  Pemahaman pengelolaan usaha.
ü  Pemahaman ’Blue Ocean Strategy' untuk dapat diterapkan dalam usaha.

b.      Teknologi Informasi & Komunikasi (TIK), juga sudah menjadi materi pelajaran atau perkuliahan namun banyak yang belum mendapat pengetahuan bagaimana ilmu tersebut dapat berdaya-guna untuk menunjang atau memberi manfaat baik materiil maupun imateriil. Banyak orang yang memiliki keahlian TIK secara hard skill (ranah kognitif) dan ”merasa” sudah sangat puas dengan keahlian tersebut. Mereka mengabaikan bahkan melupakan keberadaan soft skill yang justru menjadi jiwa atau roh dari hard skill, sehingga keahlian mereka hanya mampu mengantarkan mereka sebagai seorang profesional atau pekerja ahli yang tidak mampu menciptakan peluang usaha dari keahliannya. Hal ini tentu saja menciptakan output kompetensi TIK (termasuk keahlian teknis lainnya) sebagai seorang pencari kerja.

Hal ini terjadi karena di SMK dan PT tidak pernah diajarkan keberadaan soft skill sebagai materi yang akan memberi jiwa atau roh dari hard skill, dan ini adalah kesalahan ”genetik” dari konsep pendidikan kita. Kurikulum pendidikan tidak menyediakan soft skill. Guru dan dosen tentu saja juga tidak mengajarkan soft skill – peserta didik tentu saja tidak tahu keberadaan soft skill.

c.      Bisnis on-line, masih menjadi pengetahuan yang secara esensial masih merupakan pengetahuan eksklusif yang hanya dapat diperoleh dengan biaya relatif tinggi. Bisnis on-line baru diberikan pada masyarakat secara kognitif dan parsial dalam bentuk modul e-book (secara on-line) dan seminar atau diklat (secara off-line).

Secara umum bisnis on-line dipahami sebagai media untuk meng-on-line-kan bisnis off-line. Pola pikir ini terbukti dengan banyaknya toko on-line yang hanya sebatas sebagai etalase. Untuk memahami esensi bisnis on-line diperlukan pola pikir yang ”on-line”, bukan pola pikir off-line yang di-on-line-kan.

Demikian juga dengan Internet Marketer (pemasar on-line) yang masih dilandasi dengan pola pikir pemasara off-line yang di-on-line-kan. Untuk menjadi pebisnis on-line dan pemasaran on-line dibutuhkan pemahaman holistik tentang bagaimana mekanisme on-line bekerja, yang tentu saja membutuhkan pola pikir on-line. Dan untuk dapat memahami hal tersebut dibutuhkan mind-set yang memadai yang dapat diperoleh dengan memahami esensi tentang potensi diri dan cara otak kita bekerja. Pola pikir on-line menuntut kita untuk menjadi seorang yang multi-dimensi, visioner & imajiner.

d.     Marketing, Masyarakat banyak memahami marketing dalam konteks penjualan (selling). Marketing merupakan aktivitas dengan tujuan utamanya antara lain:

ü  Memahami psikologi pasar.
ü  Sinkronisasi produk/jasa dengan pasar.
ü  Konsep kompetisi dan kompetitor atas produk/jasa dan usaha itu sendiri.
ü  Publikasi keberadaaan produk/jasa dan usaha itu sendiri.
ü  Strategi pencitraan (advertising) atas produk/jasa dan usaha itu sendiri kepada pasarnya.
ü  Memahami konsep Genius Marketing dan bagaimana menerapkan dalam usaha.
ü  Strategi promosi untuk melakukan penetrasi pasar, termasuk membangun sentimen positif pasar terhadap produk/jasa dan usaha itu sendiri untuk meraih minded pasar terhadap produk/jasa.

Dengan demikian marketing adalah tentang rangkaian aktivitas yang mengarahkan fokus pasar kepada produk/jasa dan usaha itu sendiri, mengikatnya dalam sentimen positif yang menjadi minded pasar, dan penjualan (selling) adalah muara (clossing-nya).

e.      Neuro Linguistic Program (NLP), Ilmu Fenomenal yang memberikan pengetahuan bagaimana cara otak kita bekerja dalam menerima informasi, mengolahnya, menganalisis, dan memutuskan respon. Memiliki pemahaman yang baik tentang NLP akan memiliki sebuah “Mind Navigator”.

Seorang entrepreneur (offline) atau netpreneur (online) maupun seorang marketer – seorang Seller, membutuhkan mindset yang baik dan holisitik. NLP memberikan landasan agar pola pikir kita memiliki navigator yang memadai untuk tujuan tersebut. Di dalam NLP terdapat empat pilar yaitu:

ü  Self skill: dalam pilar ini dijelaskan tentang keberadaan attitude. Self Skill sendiri berbagi dari sense of self, personal mastery dan personal power.
Sense of self merupakan keadaan dimana manusia sadar sesadar-sadarnya. Sadar dengan keberadaan dirinya, tentang siapa dirinya, juga tugas yang diembannya sebagai manusia. Personal Mastery adalah kelanjutan dari sense of self. Manusia memiliki penyadaran terhadap setiap langkah yang diambilnya. “Manusia dikatakan memiliki personal mastery kalau dia bisa mengontrol tindakannya dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya.
Nah, kalau sudah begitu maka akan lahirlah yang namanya personal power.
ü  Relational skill: maksudnya adalah kemampuan seseorang untuk membangun hubungan baik dengan orang lain. Dalam pelatihan NLP, umumnya dijelaskan berbagai metode dan teknik untuk membangun keterampilan dalam membina hubungan. Ini yang sekarang banyak berkembang.
ü  Strategic thinking skill: kemampuan manusia untuk memprediksi masa depan. Maksudnya merancang dan merencanakan masa depan yang akan dijalaninya di kemudian hari. Hal ini terkait dengan visi dan misi hidupnya. Mampu membuat perencanaan hidupnya ke depan.
ü  Systemic thinking skill: kemampuan manusia untuk membuat action plan dan mengambil keputusan yang bijaksana dan bertanggung jawab saat ini, mengacu pada keadaan di masa depan.

NLP masih merupakan pengetahuan yang relatif mahal dan hanya dapat dijangkau oleh komunitas yang memiliki kemampuan ekonomi dan memiliki kesadaran atas kebutuhan mind set sebagai navigator.

2.      Kompetisi Program
Netpreneurship merupakan esensi gabungan pendidikan antara; Entrepreneurship, TIK, Internet Marketing, Hypnopreneurship dan NLP. Maka Netpreneurship berada pada “Blue Ocean – Zone” dimana kompetisi menjadi irrelevant.

3.      Situasi Khusus Program
Netpreneurship menjadi program khusus karena program ini akan efektif saat peserta telah memiliki pola pikir, yaitu pola tindakan, Mind Set dan Goal Setting yang sesuai dengan syarat untuk menjadi seorang Netpreneurship. Di samping itu, program berintegrasi dan berinteraksi langsung dengan komunitas atau pelaku UMKM sebagai media inspiratif untuk para peserta. Jaringan UMKM ini sangat bermanfaat bagi kedua Pihak (peserta maupun pelaku) karena saling menunjang kepentingan.

B.    Competitive Frame Program
1.      Kompetisi Paling Menonjol
Kompetisi paling menonjol adalah minimnya pemahaman esensial terhadap konsep hidup, yaitu belajar. Belajar memahami, mengetahui dan mengoptimalkan potensi diri, belajar menjadi pembelajar, belajar bekerja, belajar berusaha, dan belajar memberi manfaat hidup, yang justru tidak dipahami dengan baik oleh komunitas pasar itu sendiri.

2.      Pesaing Utama
Pesaing utama program ini adalah mind-set masyarakat umum itu sendiri dan komunitas  atau pihak yang merasa terancam posisinya akibat program ini, walaupun pada akhirnya mereka akan menyadari justru mereka akan diuntungkan. Komunitas atau pihak ini biasanya adalah mereka yang sangat mencintai “Comfort–Zone” dan enggan untuk melakukan peningkatan hidup karena ketakutannya sendiri.

3.      Kompetitor Paling Berpotensi Mengancam
Potensi ancaman datang dari bentuk propaganda yang mengarahkan opini bahwa masyarakat, bangsa Indonesia belum saatnya menerima pengetahuan atau program Netpreneurship.

4.      Kekuatan Kompetitor
Kekuatan kompetitor adalah Mind-Set salah kaprah yang telah mengakar pada pola pikir masyarakat.

5.      Potensi Masa Depan
Membangun sebuah Mind State yang baik dalam pola pikir masyarakat yang memang membutuhkan strategi dan ketekunan. Seperti strategi dan ketekunan yang dilakukan perusahaan air minum kemasan atau perusahaan pasta gigi yang melakukan “Re-Programing” dalam pola pikir masyarakat Indonesia, sehingga pada akhirnya terbentuk “Merk Minded” di masyarakat Indonesia. Program ini pada dasarnya bertugas untuk melakukan pacing dalam bentuk “Re-Programing” pada pola pikir masyarakat (khususnya masyarakat pendidikan) yang berdampak pada peningkatan atau perbaikan pola pikir publik. Dengan demikian program lebih mudah melakukan leading (pengarahan) pada publik yang berpotensi terjadinya sinergitas program dengan mind-set publik. Oleh karena itu, program memiliki sentimen positif dari publik yang berujung pada program minded dari mind-set publik.

C.    Product
1.   Gambaran Netpreneurship
Netpreneurship dapat digambarkan secara lugas sebagai media atau sarana pembelajaran yang memberikan pemahaman esensial tentang entrepreneurial ”Net-preneurial” pada komunitas pendidikan yang dimulai dari SMK dengan menjadikan SMK Basis Netpreneurship Muda, dimana program akan;

ü  Memberikan mind-set sebagai landasan Net-preneurial.
ü  Meningkatkan atmosfir Net-preneurial dalam komunitas pendidikan.
ü  Membuat komunitas yang memiliki daya saing global.
ü  Membuat SMK sebagai komunitas Net-preneur.
ü  Membuat SMK sebagai tujuan utama pengembangan pendidikan kompetensi.

2.   Perubahan Penting dalam Program
Program akan memberikan perubahan penting dalam paradigma pendidikan di lingkungan SMK, yaitu   ”SMK = Pemberi Kerja”. Sebuah paradigma baru alumni SMK untuk menjadi pribadi sukses yang mampu menjadi pemberi kerja, bukan pekerja apalagi pencari kerja.

3.   Main Visual Equity dalam Program
Kekuatan utama yang tampak dalam program ini adalah tentang eksplorasi potensi diri (sesuai minat – bakat – hobby individu) yang diaktualisasikan dalam aspek keseharian hidup, diawali dari aspek Net-preneurial. Program tidak saja berinteraksi dengan model belajar sambil melakukan namun program juga memberikan peluang pada komunitas untuk dapat berpenghasilan sambil belajar melakukan Netpreneurial karena program menyadari sinergitas antara peserta didik lintas program studi (jurusan) dengan pelaku UMKM dan industri besar yang merupakan potensi sangat luar biasa untuk meningkatkan ketahanan ekonomi Indonesia. Sebuah kemitraan sinergis & harmonis berawal dari aktualisasi potensi diri akan saling menguatkan aktivitas Netpreneurial komunitas.

“SMK : Aktualisasi Potensi Diri”
4.   Resume Program

Mindset – Entrepreneurial – Hypnopreneurial - Netpreneurial – Genius Marketer – Blue Ocean Business, (sesuai minat – bakat dan hobby).

D.   Consumer Insight
Masyarakat muda Indonesia (khususnya SMK) telah memahami bahwa teknologi informasi & komunikasi (TIK) mampu menjadi media efektif untuk menunjang aktivitas kesehariannya sebagai pelajar maupun personal, namun banyak yang belum menemukan – memahami – memanfaatkan potensi sebenarnya untuk eksplorasi aktualisasi potensi diri.

Indonesia merupakan sumber inspirasi kreativitas dunia, saatnya mewujudkan insan SMK sebagai creator bagi keputusan kesuksesan masa depannya. Komunitas SMK adalah Indonesia Muda yang sarat dengan konflik internal yang merupakan tipikal generasi muda dalam proses transisi dari remaja dewasa menuju dewasa, sebuah komunitas yang rentan terhadap aspek negatif dunia maya. Komunitas yang tidak bisa serta merta dibendung apalagi dilarang. Komunitas yang membutuhkan Pacing & Leading proporsional dengan memanfaatkan kedekatan mereka dengan dunia TIK.



E.    Advertising / Communication Objectives
1.      Tujuan Campaign
Tujuan campaign program adalah Mind-State (Pacing) dan Re-Program (Leading) terhadap komunitas program.

2.      Penetapan Target
Penetapan SMK sebagai target utama (terdiri dari berbagai jurusan atau kompetensi keahlian), akan menjadi Main Visual Equity dari produk pada saat alumni program menjadi referensi inspiratif bagi masyarakat pendidikan, masyarakat usaha, masyarakat politik, dan masyarakat umum untuk melakukan perubahan positif: Mind Set & Goal Setting.

3.      Menguatkan Posisi dalam Persaingan
Pola kemitraan sinergis dan intens dengan berbagai pihak, menjadi kekuatan program Netpreneurship sebagai program linear yang mampu mewujudkan secara aplikatif  visi & misi dari seluruh aspek kepentingan manusia, terutama aspek pendidikan, aspek usaha berikut penciptaan lapangan kerja bagi lingkungan masyarakat. Dengan terciptanya komunitas dalam ikatan sentiment positif terhadap program maka akan menempatkan program sebagai “Blue Ocean Program” dimana kompetitor tidak akan berdampak pada program.

4.      Awareness
Memiliki hidup layak, memperoleh pendidikan atau pengetahuan berkualitas adalah hak setiap warga negara. Demikian pula untuk mewujudkan cita-cita (positif), kewajiban Kita hanyalah Aktualisasi Potensi Diri dan program mengarahkan komunitas untuk memiliki kepedulian atas kebangkitan potensi diri dan aktualisasinya.

5.      Repositioning
SMK sudah selayaknya diposisikan lagi pada prioritasnya sesuai dengan visi dan misi keberadaan SMK itu sendiri. Netpreneurship merupakan wujud dari media visi – misi utama SMK; Mandiri sejak dini – menciptakan lapangan usaha.

6.      Penegasan Benefit
Program memberikan penegasan pada komunitas SMK dan publik yaitu SMK + Netpreneurship = Wirausaha sejak Dini.

F.     Target Audience (Campaign)
1.      Diskripsi target campaign
Target Campaign secara urutan proses adalah sbb :
Ø  Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten
Ø  Kepala Dinas Perindustrian dan UMKM
Ø  Kepala Sekolah
Ø  Ketua Jurusan
Ø  Orang Tua
Ø  peserta didik
Ø  UMKM & Industri

2.      Range Usia
Peserta didik dan masyarakat umum (17 tahun s/d 40 tahun).

3.      Psikografi
Ø  Alumni SMP/MTS sederajat yang ingin melanjutkan ke SMK dan ingin cepat mandiri.
Ø  Peserta didik yang ingin kepastian terwujudnya cita-cita.
Ø  Peserta didik yang ingin mengaktualisasikan potensi diri dan memberdayakan.
Ø  Institusi SMK yang ingin menjadi barometer pendidikan sinergis akselerasi income & skill.

4.      Demografi
Seluruh masyarakat SMK dan masyarakat (UMKM) di seluruh wilayah NKRI (pilot project masyarakat Kabupaten Kebumen).

5.      Status Sosial & Ekonomi
Ø  Status sosial         : Tanpa batasan status.
Ø  Status ekonomi   : Tanpa batasan status (dimungkinkan via subsidi sponsor program).

G.   Promise/ Consumer Benefit
1.      Benefit Utama
i.       Memilki Mind – Set & Goal Setting yang terfokus.
ii.     Mandiri sejak dini secara mind-set, mental, karakter, dan finansial.

2.      Benefit Gradual
i.       SMK pencipta lapangan usaha.
ii.     SMK penyedia lapangan kerja.
iii.  SMK pengguna pencari kerja.
iv.   SMK basis Netpreneur.

H.   Tone (Karakter) & Manner (Perilaku)
1.      Karakter Penyampaian
Campaign dilakukan dengan shock teraphy persuasive menggunakan konsep Pacing & Leading untuk sinergitas emosi komunitas dengan program.

2.      Perilaku Campaign
Campaign dilakukan secara Otoritatif & Smart melalui pendekatan pola pikir tipikal Indonesia Muda.

I.       Personalities
1.      Personifikasi Program
Program dipersonifikasikan sebagai figure yang Smart, familier dengan teknologi (HiTech) dengan mind-set positif.


2.      Karaktek Program
Karakter program adalah visi & misi dimensional yang futuristik dan eco-preneurship.

J.      Proposition
1.      Statement penting tentang Produk / Program
Media Aktualisasi Visi – Misi SMK; SMK Bisa – Harus Bisa – Pasti Bisa.

2.      Campaign Keunggulan paling essensial tentang Program
Menjadi Wirausaha atau Pekerja mandiri, Tidak harus menunggu Lulus.

K.   Mandatories
Elemen Equity yang menyertai Program dalam Campaign.

SMK; Mandiri Sejak Dini
SMK; Basis Netpreneur.

L.    Naked Idea
Satu kalimat kreatif yang aplikatif yang merupakan hasil rangkuman pernyataan mengenai program.

“Excellent Mind – Smart Idea – Partnership – Netpreneur Action,
Makes your world work for you “

Sebuah program yang mengadopsi rangkuman dari esensi pengetahuan-pengetahuan tersebut di atas dan mensinergikan dalam pendidikan off-line dan on-line, yang diaplikasikan dengan metode pembelajaran bersama dimana peserta didik menjadi sentra aktivitas proses pembelajaran, tentor dan mentor lebih sebagai penunjang. Program akan mengotorisasi komunitas untuk berinteraksi dengan TIK secara optimal dan intens. Program akan menempatkan komunitas sebagai subyek sedangkan obyeknya adalah Netprenerial itu sendiri, karena program diproyeksikan untuk membuat dunia masing-msing individu mampu menjadi pemberi manfaat (materiil atau imateriil) bagi yang bersangkutan dan komunitasnya. Hal inilah yang menjadikan program sebagai media yang dibutuhkan dan dicari oleh masyarakat pendidikan, masyarakat usaha, dan masyarakat umum, itu adalah kami dan kita; “Netpreneurship”.

Share: